HomeMetroPengamat: Jokowi Kecolongan, Mendag dan Menteri Investasi Perlu Direshuffle

Pengamat: Jokowi Kecolongan, Mendag dan Menteri Investasi Perlu Direshuffle

Channel Batam – Presiden Joko Widodo (Jokowi) marah besar saat rapat terbatas dengan para pembantunya beberapa waktu lalu. Kemarahan itu muncul ketika Jokowi mengetahui dua menterinya, yakni Menteri Perdagangan M Luthfi dan Menteri Investasi Bahlil berada di luar negeri saat krisis pandemi Covid-19.

Menteri Luthfi dan Bahlil berada di Amerika Serikat selama sembilan hari dengan membawa agenda penguatan hubungan ekonomi. Misi keduanya dikabarkan berhasil membawa pulang investasi USD350 juta atau setara Rp5,068 triliun. Tapi bukan itu yang Jokowi mau.

Pengamat Hukum Indigo Network, Radian Syam mengatakan, Presiden Jokowi telah ‘kecolongan’ dengan perginya dua menter tersebut di tengah kondisi PPKM Darurat. Dia menilai, jika memang kepergian kedua menteri itu mendapatkan restu dari Jokowi, maka tidak akan menjadi masalah besar.

Dia mengatakan, di dalam tugas kenegaraan atau kunjungan diplomatik ke negara-negara tujuan, tentu ada mekanismenya. Harus ada komunikasi administratif. Atau paling tidak diketahui dan sudah mendapatkan persetujuan dari Kepala Negara.

“Kalau misalkan ternyata terbukti ini dalam sekali lagi ‘kecolongan’ tanpa izin ya presiden harus evaluasi. Kalau memang dalam bahasa (politik) perlu pergantian atau di-reshuffle. Karena ini penting harus dilakukan, karena itu juga kewenangan presiden,” kata dia dikutip dari merdeka.com, Senin (19/7).

Dia melihat, kemarahan Presiden Jokowi kepada anak buahnya tersebut harus diacungi jempol dan diapresiasi. Karena presiden betul-betul melakukan evaluasi menyeluruh kepada para menterinya yang memang tidak senapas dengannya.

“Jadi kalau misalkan ada menteri yang nakal kewenangan presiden sekali lagi untuk mengevaluasi kepada menterinya,” jelas dia.

Soal Investasi

Radian melanjutkan, jika memang kepergian kedua menteri dalam rangka agenda penguatan ekonomi, utamanya untuk mengerek investasi, juga sangat tidak tepat sekalipun ada nilai investasinya. Karena kepergian tersebut dilakukan di tengah kondisi krisis pandemi Covid-19 di Indonesia.

spot_img
spot_img

Populer

News Update

Berita Terkait