Home Pendidikan Literasi Teknologi, Blended-Learning dan Solusi Bagi Kendala PJJ

Literasi Teknologi, Blended-Learning dan Solusi Bagi Kendala PJJ

Oleh : Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd

Metode belajar daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga saat ini masih menjadi alternatif aktivitas belajarmengajar di masa pandemi. Karena, meski Pemerintah telah memberikan izin untuk membuka sekolah, namun, menerapkan metode pembelajaran tatap muka secara penuh tampaknya masih cukup riskan mengingat masih tingginya angka kasus Covid-19. Jika demikian, yang perlu dilakukan adalah menjadikan PJJ seefektif mungkin baik bagi tenaga pendidik maupun peserta didik.

Salah satu kendala yang dihadapi dalam proses PJJ adalah tidak meratanya literasi teknologi para tenaga pendidik kita. Karena, metode ini sangat membutuhkan kemampuan mereka dalam menggunakan sejumlah aplikasi pendukung PJJ. Selain itu, para tenaga pendidik juga mesti mampu membuat konten yang menarik ketika menyampaikan materi sekolah. Karena itu, ada sejumlah solusi yang bisa diterapkan agar PJJ bisa efektif.

1) Penyediaan fasilitas internet yang memadai,

2) Adanya pelatihan, webinar, atau sosialisasi terkait pembelajaran daring,

3) Sesama guru membagikan tutorial pengalaman mengajar PJJ

4) Dibuat regulasi internal sekolah dan program pendukung KBM virtual,

5) Pemaksimalan koordinator teknologi dan informasi di sekolah,

6) Sosialisasi dan kesepakatan warga sekolah terkait pembelajaran daring (pihak sekolah dan wali murid/murid).

Selanjutnya, apabila pembelajaran daring berbasis teknologi digital sudah baik, kemudian, yang juga perlu dipertimbangkan adalah bagaimana integrasi pembelajaran ke teknologi digital ini tidak meninggalkan sisi-sisi humanis dalam pendidikan. Sejumlah pertanyaan mesti dicarikan jawabannya.

Seperti, apakah semua siswa kita berasal dari keluarga berkecukupan? Apakah ekonomi mereka tidak terdampak pandemi Covid-19? Apakah perangkat untuk mendukung PJJ seperti laptop atau HP yang mereka miliki telah tersambung ke internet? Apakah mereka juga mempunyai alokasi dana khusus untuk pulsa dan prioritas dalam pembelajaran? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan senada.

Karena, tentu tidak semua kondisi peserta didik kita sama. Di sinilah kita perlu mencarikan solusi agar aktivitas belajar-mengajar anak-anak bangsa tetap berjalan meski di masa pandemi. Solusi lain yang juga bisa dipertimbangkan adalah metode blended-learning. Dalam bahasa sederhananya blended-learning dapat diartikan sebagai metode pembelajaran gabungan antara daring dengan luring.

Apabila berangkat dari permasalahan tidak meratanya literasi teknologi baik peserta maupun tenaga pendidik, maka mesti ada kombinasi dari kedua metode belajar tersebut. Misalnya, ketika suatu sekolah mendapati seorang siswanya tidak memiliki perangkat teknologi, maka para guru bisa menjadwalkan agenda home visit atau mengunjungi rumah siswa tersebut. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Namun, cara ini pun bukan berarti mengesampingkan sepenuhnya metode belajar daring. Karena, literasi teknologi adalah salah satu kompetensi yang dibutuhkan pada abad 21 ini. Hanya saja, mengedukasi murid tentang teknologi membutuhkan cara yang terukur. Pihak sekolah dengan murid bisa mencari kesepakatan untuk menggunakan aplikasi mana yang bisa mendukung kegiatan belajar-mengajar secara daring.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan, keseimbangan dalam pembelajaran berbasis teknologi harus diimbangi dengan aplikasi nilai-nilai kemanusiaan. Mengenai hal ini, penulis ingin merujuk ke konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Ada dua hal yang harus dibedakan, yaitu sistem “pengajaran” dan “pendidikan”, yang keduanya harus bersinergi satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sementara, pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (berpikir dan mengambil keputusan, martabat, dan mentalitas). Cara pandang ini juga sangat sesuai dengan konsep Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penulis: Dr. Sarmini, S.Pd., MM.Pd, Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah Batam. (*)

Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd

 

Populer

News Update

Berita Terkait